Sep
24
Filed Under (Uncategorized) by rizaputranto on 24-09-2008

“Aku percaya, Allah selalu memberikan jawaban atas semua kebingungan..”

Sabtu ini, aku dan Eva berencana melakukan perjalanan ke Marseille, sebuah kota di selatan Perancis. Semua ini terjadi atas undangan seorang Bapak yang baik, kenalan Eva ketika dia pertama kali sampai di negara ini, tiga minggu yang lalu. Sang Bapak yang bernama Daniel Teow, yang berwarga negara Singapura, membantunya ketika Eva harus melakukan perjalanan menuju Montpellier menggunakan TGV. Alhasil, sebuah perkenalan pun terjalin yang menuju pada sebuah hubungan pertemanan via email. Sedikit sejarah mengenai ini semua.

Dari kota Montpellier menuju Marseille, perjalanan yang harus ditempuh berdurasi 1 jam 15 menit. Sepanjang perjalanan, kebetulan aku dan Eva terpisah dalam dua voiture (gerbong) yang berbeda dikarenakan banyak lain hal, kami disuguhkan pemandangan menakjubkan khas daerah selatan Perancis, yaitu bukit-bukit yang terbentang, hijau, dan sungai-sungai yang membelah jalanan. Untuk ini, aku berusaha untuk tidak tidur, karena hal semacam ini sayang untuk dilewatkan.

Sesungguhnya pada awal hari ini, aku ragu untuk melakukan perjalanan ini, terdapat banyak keraguan karena pikiranku tersita oleh perkuliahan yang telah kulewati minggu ini. Semua kesulitan dan adaptasi yang sedikit banyak menyiksa itu memang terus berdengung di dalam kepala. Kurasa hal ini juga dirasakan temanku Eva, hanya saja ekspresi kami berbeda satu sama lain. Namun, tiket TGV sudah ditangan dan kami sudah berdiri di depan Gare St. Roche de Montpellier, berangkatlah kami.

Tidak berapa lama, aku terbangun dari lamunanku dan biusan pemandangan itu, TGV telah sampai di Gare St. Charles de Marseille. Setidaknya, ada sedikit gambaran ketika kereta memasuki kota Marseille. Di benakku, terbersit kalimat yang mempertanyakan, kenapa kota ini tidak serapi Montpellier? Aku juga melihat banyak sampah di sekitar rel kereta. Pemikiran yang wajar, mengingat hal seperti ini tidak heran terlihat di sepanjang jalan di negara asalku, tapi disini? Itu adalah sebuah pertanyaan.

Setelah turun dari voiture, tak berapa lama, kami langsung bertemu dengan Pak Daniel. Dia nampaknya baru saja sampai di Gare, tentu saja Eva langsung mengenalinya. Dan, aku pun berkenalan padanya. Sang Bapak yang sudah cukup berumur ini memiliki semangat yang luar biasa. Jika dibandingkan dengan gerak motil bakteri, maka si Bapak adalah Clostridium dengan 8 cilia, hehe.

Kesan pertama ketika melihat kota Marseille, ini adalah kota yang tua, banyak kita temui orang Arab, terdengar juga sayup orang berbicara dalam bahasa Inggris. Pak Daniel mengungkapkan bahwa kota ini adalah kota tujuan wisata sehinggq tidak jarang orang berbicara dalam bahasa Inggris. Beliau juga menceritakan bahwa Marseille seperti dijajah oleh orang Arab karena disini terdapat satu quartier yang penuh dengan mereka. Mereka pun berbahasa Perancis dengan baik.

Tujuanku dan Eva disini sangat sederhana, mengambil beberapa foto (beberapa disini, untuk Eva dapat diartikan sebagai satu memori penuh kameranya, grrr…), dan berkeliling centre ville. Akhirnya kami menuju Port de Marseille yang dipenuhi oleh para penjual juga turis. Disini, disediakan perjalanan menggunakan kapal ke laut, yang dinamakan Croisières des Calanques. Inilah perjalanan yang kami bertiga lewati siang ini. Perjalanan laut yang ditempuh dalam waktu 3 jam ini, mengenalkan kami pada keindahan Port de Marseille, lautnya, dan Calanque-nya. Yang dimaksud dengan Calanque ini adalah sebuah ceruk diantara dua tebing karst (batu kapur) yang menjulang tinggi dan menjadi pemandangan luar biasa selama perjalanan ini.

Ini adalah week-end terhebat selama aku tinggal di Perancis, dan aku berharap akan datang lagi week-end lain yang lebih hebat. Selama bersama Pak Daniel, aku belajar sesuatu, mengenai pengalamannya dan mengenai kebijaksanaannya. Diantara jawaban yang ingin aku cari dibalik semua kebingunganku di bulan pertamaku di negara Sarkozy ini ternyata aku temukan di diri beliau.

Semua ternyata hanya tentang bagaimana berjalan diatas papan. Beliau menggambarkan bagaimana manusia bisa dengan mudah berjalan diatas papan selebar jalan raya yang diletakkan diatas tanah, namun akan kesulitan untuk berjalan diatas papan yang sama tetapi diletakkan diatas Empire State Building. Kenapa? Apa jawaban atas semua itu? Jika anda pernah membaca buku-buku psikologi seperti 7 Habits For 7 Effective Peoples, atau Blink, pernyataan tersebut diatas tercantum didalamnya. Jawabannya sangat sederhana, semua karena manusia terlalu banyak berfikir.

Manusia berfikir ketakutan-ketakutan yang akan menimpa sebelum itu semua terjadi, bagaimana jika nanti aku terpeleset dan jatuh? Ini kan diatas Empire State Building? Atau bagaimana jika anginnya terlalu kuat? Apakah aku yakin papan ini tidak retak ketika aku berjalan diatasnya? Semua ketakutan yang dibentuk sejak kita kecil. Bagaimana orang tua kita mengajarkan dan melarang kita untuk melakukan ini itu? Bagaimana pikiran kita dibentuk atas dasar ketakutan, bahkan untuk hal yang belum pernah kita lihat sama sekali.

Ya, ini berlaku sama untuk semua kesulitan yang aku temui di awal masa belajarku di Montpellier. Semua mata kuliah yang membuatku sakit kepala, bagaimana semua yang kupelajari di S1 dahulu masih terlalu dangkal, atau bagaimana jika aku tidak lulus? Bahkan sampai hal kecil, bagaimana jika aku tidak memiliki teman disini? Semua ketakutanku membuatku trauma untuk melangkah, membuat semua yang kulakukan rasanya salah. Aku tidak rileks, aku lupa, bahwa tujuan awal kemari adalah untuk belajar. Artinya, belajar untuk semuanya, belajar sabar, belajar mengendalikan amarah, belajar mengenali sistem, dan terutama belajar untuk belajar lebih cepat, beradaptasi lebih baik.

Jawaban untuk ini semua adalah rileks. Itu pesan yang ingin disampaikan analogi tersebut. Pak Daniel telah membuktikan untuk dirinya sendiri bahwa jogging sepanjang 2-3 km selalu berasa seperti langkah pertama karena tubuh rileks. Jangan pikirkan hal lain selain langkah kaki, fokus tetapi tetap menjaga keseimbangan pikiran. Semua ini tidaklah sulit untuk dilakukan. Masalah terbesarnya adalah menghilangkan rasa takut, menghilangkan asumsi-asumsi luar biasa yang kita ciptakan dalam indahnya dah mengerikannya imajinasi.

“Aku percaya, Allah selalu memberikan jawaban atas semua kebingungan..”

Riza A. PUTRANTO, 21 September 2008. Terima kasih untuk semuanya Pak Daniel, semoga semua berjalan rileks juga untukmu. Akan kami ingat selalu, Marseille yang kau kenalkan pada kami.

Sep
24
Filed Under (Uncategorized) by rizaputranto on 24-09-2008

Tulisan ini sengaja langsung diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, untuk menangkap sisi lucu dan anehnya.

Jam 09h45

Kuliah pertama di mulai, tanpa kesulitan aku menemukan ruangan tempat kuliah di selenggarakan. Karena yang lain sudah mengambil tempat di belakang dan terisi penuh akhirnya aku duduk di depan.

Kuliah berjalan 3 jam tanpa hambatan, karena memang tidak ada yang menghambat (lho??). Si professeur yang kebetulan tamu dari CIRAD itu bilang sama kita “Kalian dengerin aja kuliahnya, ntar gw kasih copy-an PDF slide ini..”. Yap, karena sang professeur udah bilang begitu, maka inilah saatnya untuk tidur, suer gw ngantuk sekaligus kedinginan. Dalam hati, “Wah, anak-anak sini kalo kuliah serius coy…”, sambil nengok ke belakang, “..Alamak….”. Ternyata cowok-cowok dibaris belakang itu pada bawa kopi panas ke dalam kelas (Weleh!).

Setelah selesai, aku memberanikan diri untuk meminta copy file yang dijanjikan si professeur. Berikut adalah rekaman pembicaraan :

Riza Ganteng : Pagi pak!

Valérie  : Pagi mas ! Mau minta file ya ?

RG : Laptopnya bagus pak..

V : …. (gw juga tahu, goblok !)

RG : Ditaruh aja di luar pak file-nya..

V : … (di luar flashdisk makdusnya, kek kek kek)

RG : Bapak kerja di CIRAD ya? (sok akrab)

V : Ya, kenapa? (pasti ada maunya nih anak)

RG : Gapapa, saya berencana stage disana pak…

V : Oh, sama siapa?

RG : Sama Pascal (emang sendiri… piye tho pak?)

V : Oh saya kenal tuh.. temen satu ruangan..

RG : Mati gw! (dilaporin deh gw sok akrab)

V : Udah nih file-nya…

RG : Cabut aja pak..

V : … (emang gigi, mahal tau cabut gigi di Montpellier)

RG : … (daritadi mesam-mesem gagu ya pak…)

V : Nah, silahkan.. (memberikan flashdisk)

RG : Makasih…

V : Mas, dari LN ya? Kursus pertama? Susah ga?

RG : Gapapa kok, saya dari Indonesia.. (dah tau susah nanya)

V : Nanti juga bisa kok, emang agak susah..

RG : …. (Nah.. loh..)

V : Ok, sampai minggu depan..

RG : Ya deh pak, makasih banyak..

Jam12h00

Duduk sendirian di depan Resto U, kayak orang gila. Cuaca sangat panas, tapi anginnya dingin. Aku pake syal, plus kacamata hitam. Dijamin mirip Rhoma Irama, ditambah mikirin kuliah kok bahasanya kayak bahasa planet. Kesel!

Jam14h45

Ngobrol sama temen satu angkatan, namanya Mathieu. Ini sedikit rekaman pembicaraan :

Riza Ganteng : Halo…

Mathieu : Halo.. Kabar baik?

RG : Anggap aja baik..

M : Lho, emang kenapa?

RG : … (sok nanya)

M : Dari mana sih? Kok kayaknya bukan orang sini?

RG : Dari Indonesia mas.. (ya iyalah, aneh nanyanya)

M : Dimana itu?

RG : Di deket Malaysia.. (dia ga tahu Indonesia)

M : Oh,… ga tau juga tuh…

RG : … (bilang lu tau Malaysia gw gampar)

M : … (berisik, ambil peta, dicari deh negara itu)

RG : Ini Indonesia..

M : Oh kukira ini Polinesia..

RG : …. (senyum kepaksa, tapi panas di hati)

M : Eh, udah masuk tuh?

RG : Ok.. (sebel)

Jam15h00

Kuliah dimulai lagi. Pada awalnya pelajaran lumayan kenal, akhirnya masuk deh ke contoh-contoh ekspresi gen resisten tanaman. Jreeeeeeeengggggg!!!! Habis itu jadi ga ngerti deh, kayaknya yang ngerti di kelas itu hanya satu orang. Dia nanya terussss…. Sambil bengong, akhirnya kutaruh bolpen mencatatku. Lemes! Mati gw, hari pertama kuliah ga donk… Bahasanya susah banget.

Akhir kuliah aku terus duduk di kelas, sambil membuka-buka catatan yang berantakan. Akhirnya si professeur ngobrol sama aku. Inilah sedikit cuplikan pembicaraan.

Phillipe Giscard : Ga keluar seperti yang lain dik?

Riza : Belum pak.. (pusing tau dengerin kuliahmu..)

PG : Kenapa? Mengerti kan yang saya utarakan tadi?

R : Mengerti pak.. (maunya pak..)

PG : Orang asing ya? Lumayan bahasa perancisnya..

R : Ya begitulah pak.. (tapi tetep ga ngerti kuliahmu)

PG : Udah pernah kenal semua gen tadi yang saya jelaskan?

R : Tidak semua pak (belum pernah kenalan tuh..)

PG : … (nih anak gagu kali ya, dikit banget dia ngomong)

R : … (elu aja gemar bicara pak.. grrrr…)

PG : Ok deh, sampai besok pagi…

R : Sampai besok pak (sakarepmu, mumet aku)

Keluar dengan muka kusut, aku berjalan sendirian, hiksss, belum dapet temen perancis neh. Eh, didepan gerbang Universitas ketemu dengan satu orang. Berikut rekaman pembicaraan yang terkesan saling menghina.

Riza Ganteng : Hai, nunggu teman?

Géraldine : Tidak, aku nunggu papaku jemput…

RG : Ok, terus dimana dia? (sok akrab, pengen punya temen)

G : Bentar kutelpon.. (nelpon selama 2 menit)

RG : Eh, pelajaran tadi sulit ga?

G : Iya sih, agak sulit pas gen-gen tadi

RG : …. (agak? Gile kali lu..)

G : Kamu?

RG : Enggak susah kok… (bo’ong, ga mau keliatan bingung)

G : Hebat deh, orang asing bilang ga susah..

RG : Oh emang kamu tahu aku darimana? (sok akrab)

G : Enggak, emang darimana? (ganteng juga nih anak)

RG : Dari Indonesia.. (pasti ga tau dimana)

G : Oh dari Asia? Bahasa Perancismu bagus…

RG : Makasih.. (Indonesia = Asia, baguuuuuusss!!)

G : Kamu bicara bahasa inggris juga? Kita kan ada tuh kuliahnya?

RG : Iya, aku bicara Inggris, Perancis, dan Jepang

G : Wah hebat.. aku hanya Perancis aja..

RG : Kenapa ga belajar Inggris?

G : Susah prononciation-nya..

RG : … (emang bahasa elu kagak, kelu nih lidah..)

G : Ada berapa bahasa emang di Indonesia?

RG : Total sih sekitar 17 ribu bahasa daerah

G : Wah menarik…. kamu bisa berapa dari semua itu?

RG : Lima deh.. (bahasa jawa tengah, timur, barat, selatan, utara)

G : Eh, papaku udah datang tuh.. ciao ya..

RG : Ok, bilang met siang sama papa ya (halah!)

G : Ok.. sampai besok

RG : Besok….. (grrrrrrr, hilang harga diriku)

Akhirnya aku jalan-jalan sebentar ke Place de la Comédie, ke Gilbert dan Johnson buat beli kertas tulis, mahal bu, 4,7 euros… ya suah, karena pelu kebeli juga akhirnya, pas pulang kupakai deh kacamata hitam di Tram, eh kelewatan aku turunnya gara-gara ga bisa liat paneau pengumuman, gggrrrr….

Sampai rumah jam 20h15 waktu Montpellier, buka komputer, Eva langsung muncul sebagai chatter… Bonjour!

Riza A. PUTRANTO, 15 September 2008. Aduuuh, puyeng deh….

Sep
12
Filed Under (Uncategorized) by rizaputranto on 12-09-2008

Email seorang rekan, Ali Noer Zaman, mengingatkanku pada sebuah kisah, sebuah perjuangan yang akan kami alami, para karyasiswa asing di negara Tuan Sarkozy. Semua kesulitan bahkan kebingungan di awal langkah kita ternyata belum seberapa dibandingkan perjuangan seorang rekan lain, tersembunyi diantara tubuh-tubuh raksasa orang eropa dan gedung historis itu.

Dialah Siska, seseorang bernama sangat Indonesia, dengan perawakan kecil. Wajah orientalnya mengingatkan kami, para pendatang baru, bahwa kami memiliki seorang rekan disini. Mungkin, perasaan kita semua sama, ketika mata ini merekam semua pengalaman hidup di negeri orang, takut, bingung dan kelu. Gadis ini, telah hidup di Montpellier selama dua tahun, dan masih akan hidup disini selama dua tahun yang akan datang.

Sebenarnya apa yang spesial dari seorang Siska? Seorang étudiante di Ecole Chimie de Montpellier, yang telah menyelesaikan Masternya dan akan melanjutkan ke jenjang Doctorat. Semua nampak normal padanya, kecuali, ketika dia mengungkapkan ketidakmampuannya untuk melihat. Ya, dia menderita semacam penyakit mata bernama katarak dan tentu saja, itu menghilangkan kemampuan visualnya.

Pertama kali aku bertemu padanya adalah minggu kemarin, ketika Eva dan Retta, dua rekan seperjuangan di Montpellier, mengajakku untuk RV (Rendez-vous) dengannya. Dalam sebuah café kecil di Galérie Lavayette, kami bertukar pikiran, bercerita, dan terbahak-bahak. Ketika dia mengungkapkan bahwa dia hanya dapat melihat gigiku yang putih tapi tidak wajahku, aku menganggapnya sebagai sebuah lelucon. Tetapi selang beberapa lama kemudian, aku melihatnya meraba untuk mencari dompet dan telepon genggamnya. “Oh, ini bukan lelucon…” pikirku. Barulah aku sadar, bahwa semua yang dikatakan Siska benar adanya.

Seorang Siska yang tangguh mengisahkan bagaimana dia tidak dapat menyeberang jalan dengan mudah sebagaimana orang biasanya. Calon doctorant yang sangat menyukai aktivitas escalage ini adalah seorang figur dari sebuah frasa “Pantang Menyerah”. Dalam hatiku, aku mengangkat topi untuknya, beribu topi akan kuangkat untuknya. Dalam kehidupan sehari-hari, Siska sangat berani. Betapa tidak, di kota seperti Montpellier ini, beribu orang tumpah ruah di jalan, yang tak satupun diantara mereka tahu bahwa gadis ini memiliki sebuah kekurangan. Semua orang menyadari bahwa kehidupan di negara asing memang berat, tetapi jika itu ditambah dengan kekurangan yang lain, alangkah lebih beratnya.

Beruntung seorang Jerome yang baik, mau menjadi penjaga bagi seorang Siska. Dialah seorang Perancis yang berbeda dengan yang lain. Di mata Siska, mungkin dialah “rumah” untuknya. Jerome dengan sabar selalu membantu Siska, mengantarkannya ke manapun Siska perlukan. Hubungan mereka dimulai ketika Siska masih baru di negeri ini. “Mon voisin idolaku”, itulah slogan Siska. Kedekatan mereka berawal dari Jerome yang beberapa kali mendekati Siska, berusaha berbasa-basi dan meminjam sesuatu.

Beberapa kali Siska ragu padanya, dan ketika Jerome mengungkapkan isi hatinya, Siska menjelaskan resiko dan rintangan yang akan dihadapi. Dua budaya yang saling bertolak itu pun menjulang bak tembok raksasa di depan mereka. Jerome memecahkan tembok itu dengan sebuah kalimat “Apakah karena itu sulit, kita harus berhenti mencoba?”. Serta merta, semua beban itu musnah, dan akhirnya cinta menyatukan mereka pada suatu masa.

Aku pun masih ingat ketika Siska menceritakan kesulitan dia dalam berbelanja. Karena sulit membedakan berapa mata uang yang dia miliki, biasanya Siska menyodorkan semua euro yang dia punya. Sehingga sang penjual, akhirnya mengambil dan memberikan kembalian. Juga, suatu ketika Siska pernah menyeberang jalan, sambil memakai headset. Di tengah jalan, Siska melihat mobil memberikan sinyal lampu padanya. Siska berfikir, mobil ini memberikan tanda padanya, bahwa ada mobil disana. Ternyata tidak, mobil tersebut memberikan tanda bahwa ada truk yang sedang melaju ke arahnya. Ketika Siska menoleh dia menyadari hal tersebut, dan terhindarlah dia dari kejadian yang tidak diinginkan. Sejak saat itu Siska tidak mau lagi memakai headset, rasa trauma itu membuatnya takut.

Ketika bertemu denganku, dia nampak senang. Bertemu dengan bangsa sendiri di tempat asing memang selalu menjadi masa yang menyenangkan. Kita tertawa terbahak-bahak, berdiskusi dalam bahasa Jawa, bahkan Ngapak. Tidak ada momen yang paling menyenangkan, dibandingkan ini. Lalu, darimana Siska mendapatkan sakitnya ini? Apakah dia sudah menderita penyakit ini sejak dari Indonesia? Jawabannya adalah tidak.

Rasa bingung dan stres-lah yang memicu penyakit ini. Siska berujar bahwa penyakitnya diturunkan secara genetis dari keluarganya, tetapi penyakit ini tidak pernah muncul di Indonesia. Kehidupan Siska yang jauh dari tekananlah yang membuat penyakit ini terhibernasi. Disini, situasi berbalik 360°, dan penyakit itu akhirnya terbangun dari tidurnya. Entah telah berapa banyak obat-obatan yang dikonsumsi olehnya. Terbaring di sebuah kamar putih rumah sakit pun menjadi hal yang biasa untuk Siska, bahkan hingga dia mendapatkan masalah dari Universitas, karena absennya dalam beberapa cours. Atau bahkan, masalah rembourse untuk biaya pengobatannya yang sangat mahal. Dalam kurs rupiah, dalam Siska harus menghabiskan uang sekitar 100 juta untuk menjaga kesehatannya. Jika tidak, punggungnya akan terasa sakit, kemudian dia tidak akan mampu melihat.

Harapan Siska sederhana, bahwa suatu hari, dia akan kembali ke Indonesia dan berencana untuk naik gunung. Mungkin pada saat itu semua beban di tubuh dan jiwanya akan lepas. Mungkin pada saat itu pula, kehidupan yang lama akan terlintas di benaknya. Kehidupan dengan semua cahaya itu.

Satu hal yang aku ketahui, life must go on, semua harus terus berjalan, bukan? Apapun yang terjadi. Tuhan selalu memiliki rencana untuk manusia. Kita semua menghadapi segudang kesulitan, di awal masa pengenalan dan adaptasi di suatu tempat yang asing. Pasti, tidak akan mudah, tidak akan mudah kawan. Tetapi, “Apakah karena itu sulit, kita harus berhenti mencoba?”

Riza A. Putranto, le 12 septembre 2008. Tulisan ini untukmu, Sis…


 

 

Judul
diatas terkutip dari sebuah kalimat yang dilontarkan seorang Presiden Republik
Indonesia yang dipilih oleh rakyat ini. Sebagai masyarakat penyimak, tentunya
kita semua pernah mendengar atau menyaksikan di layar televisi “kemarahan”
orang nomor satu di negara kita itu. Setidaknya sudah dua kali, SBY mengkritisi
para pemimpin atau bahkan anggota parlemen, seperti yang hari ini terjadi
ketika Presiden sedang mengadakan rapat dengan anggota kabinetnya.

 

Pada
kasus terdahulu, saya mengikuti perkembangan dan sempat membaca artikel-artikel
press yang memuat tentang kemarahan SBY. Beberapa tokoh mengungkapkan pro dan
kontranya. Diantara itu, sebagian menyatakan bahwa tidur di tengah rapat, atau
saat pengarahan adalah hal yang wajar, juga untuk berbincang “sedikit” dengan
rekan satu meja. Manusiawi, itu alasan mereka. Saat itu, saya menganalisis arah
pernyataan beberapa tokoh yang kontra tersebut sebagai bentuk wacana politik.
Entah mengapa, jika seorang politisi berbicara atau mengungkapkan pendapat,
seolah seperti ada makna sebenarnya yang ingin diungkapkan tetapi tidak perlu
mengungkapkannya untuk menyatakan hal yang lain. Singkatnya, inilah manifestasi
politik dan permainan kata-kata.

 

Kembali
kepada kasus kemarahan SBY, sebagai seorang warga negara Indonesia, yang
menghargai para pemimpinnya, saya melihat bahwa tindakan yang dilakukan SBY
benar adanya. Jangankan presiden, seorang guru saja jika muridnya berbincang ketika
jam pelajaran tengah berlansung pasti marah atau kesal bukan? Jadi tidak bijak
jika tindakan SBY ini digunakan beberapa pihak untuk “menjatuhkan” beliau. Jika
kita menggunakan alasan manusiawi, maka jawabannya begini, “Presiden kan
manusia juga, wajar bila kesal terhadap mereka yang tidak menghargainya”. Ya?
Sebenarnya yang perlu diperhatikan adalah perilaku para pemimpin kita. Semua
kasus korupsi yang menimpa para wakil rakyat, atau bahkan petinggi kejaksaan
membuat mata Indonesia terbuka bahwa negara ini berada dalam masalah besar.

 

Sejak
keruntuhan rezim Soeharto, reformasi yang mengambil tempat nampaknya mulai
berubah menjadi sebuah rezim. Bagaimana tidak? Semakin banyak saja orang-orang
yang bertindak seenaknya sendiri. Tidak mengerti dimana posisi mereka,
bagaimana mereka seharusnya bertindak-tanduk. Seorang pemimpin negara adalah
mereka yang terpilih, dibebani sebuah tanggung jawab baik moral maupun
tertulis, dan berperan membantu kinerja bidang untuk kemajuan kerakyatan. Seorang
rakyat yang berbicara melalui telepon ketika berita ini disiarkan mengungkapkan
kekesalannya, “Mungkin para menteri itu terlalu sibuk menghitung
penghasilannya, untuk mengatur keuangan mereka akibat naiknya harga tabung
elpiji..”. Sungguh miris. Kita semua mengerti bahwa pejabat atau mereka yang
duduk di kursi tinggi itu, adalah mereka yang hidupnya di sokong dari pajak
yang dibayar oleh rakyat. Rakyat kecil yang sebagian besar hidupnya dihabiskan
untuk membanting tulang, mencari sesuap nasi. Boleh saja, mereka mengatakan
bahwa manusia itu memiliki jalur rezeki masing-masing, tetapi alangkah bijaknya
memahami bahwa manusia diciptakan berbeda dalam rezeki tidak lain adalah untuk
saling membantu.

 

Pada
masa sekarang ini, kita (rakyat) tengah disuguhi oleh tontonan sirkus kelas
atas. Jadi, kemunculan artis-artis di panggung politik bukan tanpa sebab bukan?
Mereka yang jenuh dengan para tikus berdasi, mulai melirik golongan lain yang
hampir setara dengan para politikus tersebut, dalam hal status sosial. Pihak
lain mempertanyakan mengenai kapasitas dan kemampuan intelejensia para
selebritis. Tetapi, apakah rakyat peduli dengan semua gelar dan kecerdasan yang
dimiliki pemimpin-pemimpin kita saat ini? Tidak! Rakyat akan menyanjung mereka
yang sanggup menurunkan harga sembako, harga BBM, bahkan listrik. Semua serba
fragmatis memang, namun sebenarnya apa sih yang diharapkan dari hidup? Seorang
teman mengungkapkan bahwa sebenarnya kebutuhan dasar untuk hidup hanya ada tiga
: (1) kebutuhan pangan, (2) kebutuhan sandang, (3) kesehatan. Ketiganya mulai
tidak lagi selaras beberapa tahun terakhir di negara kita.

 

Tidak
adil bila menyudutkan pemimpin-pemimpin tersebut atas terpuruknya Indonesia
saat ini, namun bukankah lebih bijak jika dalam perilaku mereka disaksikan mata
rakyat, mereka menunjukkan sebuah usaha serius dan berdedikasi untuk membantu
negara ini menyelesaikan problematikanya. Inilah saatnya membalas jasa rakyat,
wahai para pemimpin bangsa!

 

 

Riza A. PUTRANTO, 28 Agustus 2008. Kesal, melihat semua
tayangan televisi Indonesia hanya berisi masalah.

Aug
27
Filed Under (Uncategorized) by rizaputranto on 27-08-2008


 

 

Sepanjang
hari ini, kepalaku sekali dan aku tidak tahu apa sebabnya… (Bahasa)

 

All this day, I
have my headache, such a painful one and I didn’t know the cause… (English –
American Accent)

 

Toute la journée, j’avais
mal à la tête, c’est pénible et je ne connais pas de causes… (Français –
L’accent de Métro)

 

 

Riza A. PUTRANTO, le 25 août 2008. Bener-bener deh nih
sakit kepala, ga bisa diajak komunikasi bahkan menggunakan tiga bahasa.

 

 

 

 

Aug
27
Filed Under (Uncategorized) by rizaputranto on 27-08-2008


 

 

Siapa
yang tidak mengenal Mulan Jameela dengan singe hits-nya yang terkenal? Ataukah,
siapa yang tidak terkesima menyaksikan melejitnya karir si cantik Sandra Dewi?
Lalu, bagaimana dengan keluarnya album terbaru Julia Perez yang berjudul
seduktif itu? Di tambah lagi, penampilan cool dan manis Marsya Timothy dalam
setiap film layar lebar yang dimainkannya? Orang bilang mereka adalah
makhluk-makhluk Tuhan yang paling sexy.

 

Pertama,
mari kita kesampingkan terlebih dahulu, anggapan bahwa fisik bukanlah sesuatu
yang penting. Kali ini, arah pembahasan menuju yang lebih spesifik, sangat
subyektif dan fokus. Kenapa? Untuk dapat memahami kenapa kata sexy harus keluar
dari bibir-bibir mereka. Kedua, dalam dunia yang sekarang ini berbasis pada
panggung sandiwara, penampilan indah di depan layar kaca, adalah sesuatu yang
dinilai mampu menghibur publik. Bagaimanapun juga, para pelaku selebritas ini
adalah mereka yang memiliki keunggulan dari segi fisik. Disini sesuatu yang
normal adalah mengatakan hal yang sama dengan kebanyakan orang. Siapa
menyangkal bahwa Sandra Dewi termasuk salah satu artis tercantik yang pernah
ada? Yang bukan berasal dari golongan blasteran? Ya? Tentu juga, kita masih
ingat bagaimana Titi Kamal pernah menjadi ikon laris di dunia hiburan dengan
wajah orientalnya. Ketiga, kecantikan atau kegantengan memang selalu
mendapatkan tempat sendiri, seperti kertas kado yang membungkus hadiah, itulah
yang mendapatkan perhatian pada awalnya. Sebagus apapun hadiahnya, kertas
kadolah yang mendapatkan perhatian pertama, begitupula sebaliknya.

 

Sedari
pagi ini, aku menyempatkan diri menonton dua film domestik yang menurutku cukup
menghibur, Quicky Express dan From Bandung With Love. Dua buah film dengan
penggarapan dan latar belakang yang berbeda. Yang pertama bercerita tentang
serunya persahabatan trio gigolo, cinta terlarang dan kenyataan transeksual di
Metro. Yang kedua mengungkapkan sebuah cerita sederhana dari kehidupan percintaan,
perselingkuhan dan hal-hal kecil mengenai cinta yang dapat terjadi pada siapa
saja. Dengan mengesampingkan cerita dan pesan yang ingin disampaikan, aku
mengamati tokoh-tokoh dalam kedua peran tersebut yang diperankan oleh Sandra
Dewi (Quicky Express) dan Marsya Timothy (From Bandung With Love). Lupakan
mengenai pendapat bahwa filmnya terlalu ordinaire atau bahkan jorok. Lupakan
pula mengenai bagaimana bahasa yang digunakan terlalu aneh, canggung dengan
percakapan yang sedikit mengarah ke pornografi. Aku melihat, mereka berdua
sangat cantik. Itu saja. Bagiku, inilah indikasi bahwa penampilan fisik akan
selalu mendapatkan tempat dimanapun dia diletakkan. Di sudut manapun dia
ditempelkan, kita masih mampu melihat kemilaunya.

 

Analisa
sederhana mungkin cukup untuk menjelaskan hal tersebut. Sejak kecil, kita terlatih
untuk melihat pertama kali apa-apa yang tampak di pelupuk mata ini. Lagipula
organ ini adalah alat terpenting untuk menjelaskan dunia melalui penampakannya
yang visual. Kita tidak akan mencari rumput teki diantara paparan rumput teki
lainnya, tetapi jika ada satu rumput gajah di antara teki tersebut maka dengan
mudah kita dapat membedakannya. Sesuatu yang berbeda ini, yang disukai, seperti
kecantikan selebritis, adalah sesuatu yang dengan mudah dibedakan dari yang
lain. Bahkan diantara, para finalis Miss Universe, juri-juri masih dapat
membedakan yang mana yang menjadi pemenang. Ya? Tetapi, aku tidak ingin
mengatakan bahwa kecantikan ini atau keseksian ini adalah modal pemenang.
Tidak! Kita tidak akan menjadi pemenang hanya dengan mengandalkan satu faktor
bukan? Tetapi kembali ke paragraf kedua, tulisan ini hanya melihat sesuatu dari
satu sudut pandang, lebih fokus dan spesifik.

 

Lalu,
apa hikmah yang dapat dipetik? Satu hal yang pasti, menjadi cantik atau sexy,
bukanlah sebuah tujuan kenapa aku menulis ini tetapi melihat bahwasanya
kecantikan adalah perbedaan. Menjadi berbeda sama halnya dengan menjadi cantik.
Perbedaan secara fisik? Ya, mungkin dengan menjadi seseorang yang lebih ramah
sebelumnya, banyak tersenyum. Atau, menjadi seseorang dengan pandangan mata
lebih tegas? Lebih berwibawa? Itulah sebuah perubahan yang sama sexy-nya dengan
mereka, para selebritis.

 

Don’t be affraid to change boy!

 

Riza A. PUTRANTO, 25 Agustus 2008. Terima kasih untuk Jeng
Sri *hehe, yang sudah memberikan ide dengan meluncurkan kata kunci “Makhluk”,
pagi ini.

Aug
24
Filed Under (Uncategorized) by rizaputranto on 24-08-2008


Saat
itu siang hari dan aku sedang terduduk di sebuah kantin bernama
Cluster, entah kenapa mereka menamakannya begitu. Kantin yang
terletak di persimpangan Biogeosains (Fakultas Biologi, Geografi dan
Sains atau MIPA), begitulah kami (angkatan terdahulu) menyebutnya.
Tempat ini telah banyak berubah, memang, banyak sekali berubah. Tidak
mungkin dikatakan buruk, karena senyatanya berubah ke arah yang lebih
baik.

Delapan
tahun yang lalu, tepatnya tahun 2000, bulan sembilan, aku masih ingat
dengan mata kepala sendiri bagaimana susunan bangunan kampus ini,
pada masa itu. Hari pertama aku menginjakkan kaki ke panggung
pembelajaran yang dibilang tingkat tinggi ini, adalah hari dimana aku
memakai kemeja putih bercelana hitam, dan mengenakan atribut
aneh-aneh, seperti yang aku saksikan pagi ini, adik-adik angkatan
2008. Tiga hari Orientasi Mahasiswa (OSPEK) yang melelahkan, dengan
semua skenario tersusun rapi.

Dua
tahun kemudian, aku adalah senior di kampus tercinta. Jalinan
pertemanan telah terjalin sesama angkatan, dengan mereka para junior
juga para senior yang kuhormati. Aku mengenal banyak teman dengan
pemikiran-pemikiran mereka yang kunilai brilian, padahal mereka masih
muda. Aku simpan kenangan itu, pembicaraan itu, dan setiap kata yang
keluar dari mulut mereka. Sebagai cambuk untukku bahwa dunia ini
luas, sangat luas, bahkan ketika hidup hanya di sebuah
niche
(sub-habitat
yang ditinggali satu atau dua spesies).

Hari
ini, ketika aku menyelesaikan makan siangku, dikelilingi oleh
generasi muda Gadjah Mada, aku memutar kembali ingatanku pada seorang
teman yang baru saja berhenti di depan garis pandangku. Dia menatapku
dan melemparkan senyuman. Sedikit terkejut dan heran, kenapa aku ada
disini, tetapi tak menghentikan ingatannya untuk secepatnya kembali
mengingat siapa diriku sebelumnya. Untuk menghormati orang ini, aku
akan menggunakan inisial namanya saja “Miss H”.

Tak
butuh banyak waktu untuk melibatkan kami berdua dalam pembicaraan
yang cukup serius namun santai. Serasa seperti benang terkoneksi,
Miss H langsung memulai pembicaraan dengan sebuah kalimat, “
Pak,
tahukah dikau apa yang kulakukan saat ini? Kenapa aku mengambil S2 di
kampus ini lagi? Sebenarnya semua ini bukan mauku, aku dijatuhi
pilihan…”
.
Heran, tentu saja aku sangat heran. Sepertinya kami sudah terpisah
waktu selama hampir empat tahun, namun dia berbicara padaku seolah
kemarin kita baru saja berpisah. Seorang teman yang luar biasa.

Beberapa
menit pembicaraan kita, aku terkesima mendengar kisah-kisah yang dia
ungkapkan, jujur dari bibirnya yang penuh semangat. Dia adalah staf
pengajar untuk sebuah tujuan mulia, yakni membimbing mereka
(anak-anak SMU) yang akan maju di tingkat nasional dan internasional
dalam sebuah kompetisi olimpiade ilmu pengetahuan.
Merveilleuse!
Bertapa
hidup ini, memang sangat beragam. Aku bahkan tidak menyadari
pekerjaan seperti ini ada, dan tidak banyak orang mengetahuinya.

Dari
guratan dahi dan gencarnya penjelasannya, aku sadar bahwa ini
bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah, walaupun dia “menikmati”
beasiswa untuk melanjutkan studinya di fakultas yang sama. Lalu, kami
melangkah menuju pembicaraan dalam tingkat yang lebih kompleks,
negara. Kami berbagi pengalaman bekerja, dan sebagai seseorang dengan
sedikit pengalaman bersama senior-senior hebat di kantor, aku membagi
cerita.

Pada
akhirnya, kami menemukan satu kesamaan yang membuat kami sadar bahwa
ini adalah jalan penuh dengan persimpangan. Kamu bisa belok dimanapun
kamu suka! Sebagaimana dua orang yang tidak bertemu cukup lama,
kemudian kami dibalut dengan budaya dan adat Indonesia, pertanyaan
berujung pada pernikahan, rekan-rekan yang sudah melaksanakannya,
yang berencana, belum terlaksana atau bahkan telah lama menikmatinya.

Lalu,
aku tanyakan padanya kenapa dia belum menikah? Jawabannya sederhana,
belum terpikirkan. Sebuah jawaban yang nyaris sama denganku sendiri.
Ketika dia mengajukan pertanyaan yang sama, aku menjawabnya dengan
sedikit tersenyum.
“Belum,
aku masih mengikuti rencanaku, sedikit sifat egois yang kumiliki”
.
Artinya? Aku tidak hipokrit, aku juga membutuhkan pernikahan. Aku
tidak ingin hidup sendiri, namun sepertinya, akulah aku, yang sadar
akan kelebihan dan kekurangan diri sendiri.

Untuk
fokus dalam satu hal, aku menghindarkan bertemunya dua sumber
problematika. Ketika hidupku dihadapkan pada posisi dimana studi
adalah pilihan pertama, maka itulah yang kukejar. Dengan segala
hormat, tanpa melupakan apa itu menikah, tanpa melupakan siapa yang
kucintai. Semua tergurat dalam buku putihku (hanya ibarat, seperti
negara kita yang memiliki buku putih bertuliskan rancangan
pembangunan dalam lima tahun).

Pernah
suatu ketika, seorang kakak, memberitahukanku untuk menyelaraskan
antara kebutuhan pribadi, artinya berilmu dan segalanya, dan
kebutuhan social, yang berarti menjalin sebuah hubungan dan menikah.
Dia, kakakku ini, berhasil. Dia menyelaraskan keduanya, dengan
mengorbankan salah satunya. Dengan memberikan hanya sekitar 50% dari
kemampuan terbaiknya, di salah satu pilihan tersebut. Miss H
menganggukkan kepalanya. Dia tidak menyetujui langkah ini.

Bagiku
dan baginya, menjuadi fokus berarti 100 atau bahkan 110 persen pada
satu hal. Ya, kami adalah tipe manusia seperti itu. Kurasa tidak
mungkin jika orang lain memberikan penilaian mereka berdasarkan
keinginan orang tersebut untuk menikah. Hingga saat ini, aku memegang
teguh sebuah kalimat mulia, bahwa
kesuksesan
seorang lelaki, terletak di belakang tangan seorang wanita.
Artinya,
seorang wanita adalah tokoh penting di balik layar kesuksesan
prianya. Lihatlah, Soeharto, tanpa mengesampingkan kekurangannya,
atau bagaimana Susilo Bambang Yudhoyono berubah menjadi seorang
pemimpin negeri ini. Atau malah Barack Obama, dengan semua
kemunculannya yang fantastis. Istri merekalah, tiang kekuatan mereka.

Entah
salah, atau tidak, aku mengikuti kata hatiku. Jadi, Miss H, inilah
kenapa aku sangat mengagungkan pernikahanku kelak. Ketika, saat ini
aku sangat percaya pada satu orang wanita, yang semoga kelak dia-lah
tiangku, dialah simbol dari kesuksesanku. Namun, sementara aku berada
di kawah chandradimuka ini, aku harus berjuang sendirian, seperti
engkau Miss H, sendirian di tengah ketidakpedulian orang pada
tindakan  muliamu. Aku masih ingat, betapa kamu, Miss H, menginginkan
dahulu sebuah bulan madu sederhana dengan suami masa depanmu, di tepi
Pantai Sepanjang, Jogjakarta. Yang mungkin bagi orang lain, itu
bukanlah sebuah bulan madu berkelas.

Tapi,
engkau tidak peduli. Aku tahu, karena engkau adalah manusia
berkarakter. Karakter tidak akan kalah oleh sengaunya hedonisme, atau
pandangan subjektif yang lain. Karakter yang tengah aku bangun
bersama dengan rencanaku. Sebagaimana, film-film Amerika itu
mengatakan,
“Stick
to the plan, and you’ll be just fine bro! Just fine…”.

Ria
A. PUTRANTO, 24 Agustus 2008. Sebuah pengalaman hidup bersama seorang
teman yang menakjunkan. Terima kasih atas perbincangan yang luar
biasa ini, Miss H.

Aug
23
Filed Under (Uncategorized) by rizaputranto on 23-08-2008


Il y a une semaine,
je suis arrivé à mon village natal où j’ai
grandi. Ça ne fait que deux rentrées pendant mes cours
obligatoires de français au CCF Jakarta. J’ai quitté
temporairement mon boulot au bureau auquel je m’attachais beaucoup
et grâce auquel je connaissais la France. Oui, je vais en
France le mois prochain. Je vais apporter tout ce que je peux, la
relation amicale, la culture unique. Cependant, je me suis réalisé
que la vie n’est plus la même.

Premièrement,
quand j’ai rencontré mon grand seul père qui habitait
à Magelang, pas loin de Jogjakarta, tout s’est évolué.
J’ai vu directement à ses yeux où je ne pouvais pas
trouver la lumière. La vieillesse travaillait déjà
très bien. En outre, il est maintenant en peu perdu sa
capacité d’écouter. Quinquagénaire est son
temps, son époque.

Deuxièmement,
une fois que j’ai visité mon université où
j’ai autrefois étudié, j’ai été
compliqué par le changement inattendu comme le système
de stationnement de la faculté de biologie. Plus pire, le
montant que le département applique pour les études
universitaires coûteuses. Bof ! C’est inévitable.
En revanche, ma position officielle me donne tant de bénéfices.
Les enseignants universitaires ne me regardent que comme des
collègues, pas comme étudiant qu’avant. Ici,
l’éducation est basée sur l’obéissance
infantile qu’ils pratiquent.

Troisièmement,
ma voisine que, autrefois, elle était trop petite, a déjà
un enfant. Elle devient plus grosse et plus féminine. Patata !
Je suis flâné par l’histoire de ce village. On a dit
que le développement est une chose normale. Rien n’est
bizarre ! Par conséquent, l’être humain apprend
toujours qu’il faut familiariser toute les conditions qui se sont
écoulées.

Ce fait, je suis
bouleversé, tombé par la réalité que je
suis adulte maintenant, avec toutes mes compétences.  Je ne
peux pas changer ou recouler le temps passé. Jadis, j’étais
juste un petit gamin qui ne faisait rien sauf crier. Manger des
chocolats était mon activité que j’aime trop. Si
jamais, je deviendrai comme lui, mon grand père, il faut que
je sois prêt.

Ça me force
donc de se débrouiller mieux dans le pays où Napoléon
a déclaré « L’État est moi ».
À bientôt la vie de 27ans ! Et bienvenue la vie des
études et des apprentissages…

Untuk mempermudah
komunikasi bagi mereka yang belum berbahasa Perancis, berikut adalah
tulisan terjemahan :

EVOLUSI
HIDUP

Seminggu
yang lalu, aku tiba di kota kelahiranku dimana aku dibesarkan. Sejak
kursus wajib bahasa Perancis yang kuikuti di CCF Jakarta, aku hanya
dua kali pernah kembali kesini. Aku berhenti sementara dari
pekerjaanku di kantor, dimana aku sangat terikat olehnya dan berkat
pekerjaan itu pula aku mengenal Perancis. Ya, aku akan pergi kesana
bulan depan. Aku akan membawa semua yang kubisa, hubungan pertemanan
yang hangat sampai budaya unik ini. Tetapi, aku sadar bahwa hidup tak
lagi sama.

Pertama, ketika aku
menemui satu-satunya kakekku yang tinggal di Magelang, tidak begitu
jauh dari Jogjakarta, semua telah berubah. Aku melihat langsung di
pelupuk matanya dimana aku tidak lagi menemukan cahaya. Penuaan
memang telah bekerja dengan baik. Bahkan, dia sekarang sedikit
kehilangan kemampuan mendengarnya. Usia delapan puluhan adalah
waktunya sekarang, masanya.

Kedua,
ketika aku mengunjungi civitas academia dimana dulu aku belajar, aku
lumayan dikejutkan oleh perubahan sistem pemarkiran bahkan lalu
lalang kendaraan di Fakultas Biologi. Lebih parah, pendidikan
sekarang diaplikasikan menjadi sangat mahal. Ouf! Memang tidak
terhindarkan. Sebaliknya, statusku sebagai alumni dan pekerja
memberikanky banyak keuntungan. Para dosen melihatku sebagai rekan
atau kolega mereka, tidak lagi seperti mahasiswa dulu. Disini,
pendidikan didasarkan pada kepatuhan
mahasiswa
yang dipraktekkan oleh mereka.

Ketiga, tetanggaku
(wanita), yang dulu dia sangat kecil, kini sudah memiliki anak. Dia
menjadi lebih besar dan lebih feminin. Alakazam! Aku terbawa oleh
cerita desa ini, dulu. Orang bilang bahwa perkembangan adalah sesuatu
yang normal. Tidak ada yang aneh! Konsekuensinya, manusia terus
belajar bahwa memang harus membiasakan diri dengan semua kondisi yang
berubah.

Akhirnya,
aku bingung, dijatuhkan oleh kenyataan bahwa aku sudah dewasa
sekarang, dengan semua kemampuan yang kumiliki. Aku tidak dapat
mengubah atau memutar balik waktu yang telah lewat. Kemarin-kemarin,
aku hanya seorang anak kecil yang tidak melakukan apa-apa kecuali
menangis. Makan coklat adalah kegiatan yang sangat aku sukai. Suatu
hari, aku akan menjadi seperti dia, kakekku, seharusya aku siap.

Semua ini
mendorongku untuk berusaha lebih baik di Negara dimana Napoléon
mendeklarasikan “Negara adalah Saya”. Sampai jumpa hidup selama
27 tahun! Dan selamat dating hidup belajar dan pembelajaran…

Riza A. PUTRANTO,
23 Agustus 2008. Hanya sebuah tulisan….

Aug
16
Filed Under (Uncategorized) by rizaputranto on 16-08-2008


 

 

Menjadi
seorang manusia dapat diartikan pula menjalani kehidupan yang penuh dengan
pilihan. Tentu saja tidak mudah untuk mengartikan ataupun menentukan pilihan
yang akan diambil. Dalam kehidupan sehari-hari saja, manusia sudah cukup
disulitkan dengan keputusan untuk berbelanja, menentukan langkah yang harus
diambil untuk sebuah masalah, baik kecil maupun besar. Ini adalah kekejaman
dunia yang sebenarnya.

 

Dari
sudut pandang religi, setiap manusia percaya memiliki jalan hidup mereka
masing-masing. Ibarat jalan raya dengan semua kompleksitasnya, manusia
mengemudikan kendaraan mereka dan menentukan kapan mereka akan belok, mengerem,
berhenti atau bahkan melanggar rambu lalu-lintas. Semua kegiatan tersebut
dilakukan dalam keadaan sadar. Dari sini, analisa dari para ahli pun belum
mampu mengungkap rahasia dibalik kekuatan otak atau bahkan jauh diatas itu,
yang memuaskan penasaran kaum humanisme.

 

Dalam
contoh sederhana, manusia dihadapkan pada kerumitan yang lain, yaitu cinta.
Kenapa? Lihatlah sekeliling. Dalam beberapa ratus tahun, sejak manusia
ditakdirkan untuk berpasang-pasangan, cinta ikut tumbuh seiring menuanya dunia,
menembus cakrawala. Siapa tidak mengetahui kisah luar biasa Layla dan Majnun?
Juga Romeo dan Juliet? Bahkan Dimitri dan Cassanova? Atau bahkan Cinderella?
Satu kesamaan dalam semua cerita tersebut, cinta berarti pengorbanan. Kita
dibuat terkesima oleh pengorbanan baik Romeo maupun Juliet untuk orang yang
mereka cintai, tanpa mampu menganalisis betapa bodohnya hal yang mereka
lakukan. Atau, takjub mendengarkan Kakek mendongeng mengenai kebesaran cinta
Majnun yang sanggup meruntuhkan sebuah kerajaan dan menyiksa tubuh lemah
seorang lelaki selama beberapa puluh tahun? Kisah-kisah tersebut hadir di dalam
hidup kita, membaur, dan memaniskan romantika cinta yang bersemi pada diri
kita.

 

Lalu,
apa hubungan ini semua dengan kekejaman dunia? Setidaknya, dalam pandangan
logis, adakah kisah seperti dalam legenda tersebut di dunia nyata? Dunia dimana
tidak ada musik mengharukan yang mengiringi langkah kita seperti dalam
film-film, juga semua terlihat wajar dan bahkan terkadang mengerikan. Tidak ada
pahlawan-pahlawan yang melindungi kita di jalanan seperti Batman, Superman atau
bahkan Daredevil. Manusialah yang menciptakan itu semua. Seperti masakan yang
akan terasa hambar manakala tidak ditambahkan garam. Kitalah yang merekayasa
terciptanya semua romantika dan nostalgia tersebut. Di dunia nyata ini,
pengorbanan yang kita lakukan terkadang melebihi apa yang terlihat di dalam
layar kaca atau layar lebar. Terkadang perjuangan mencari sesuap nasi, adalah
sesuatu yang lebih romantis dibandingkan kisah cinta para pujangga zaman
klasik. Terkadang kepergian seorang kekasih meninggalkan dia yang dicintainya,
terlihat lebih kejam dibandingkan apa yang muncul dibalik novel-novel romansa.

 

Adakah
seseorang di dunia ini yang dapat menjelaskannya? Fenomena ini? Pada dasarnya,
manusia diberikan kemampuan untuk berfikir sebelum bertindak, membedakan dengan
menggunakan “nurani” apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah. Tulisan
ini hanyalah sebuah refleksi dari semua buaian yang diberikan oleh dunia maya
ciptaan kita. Tetapi, sekali lagi, inilah pilihan yang dibuat manusia.
Menciptakan semua yang maya untuk memaniskan semua yang nyata.

 

Benarkah
demikian?

 

 

Riza A. PUTRANTO, 16 Agusutus 2008. Refleksi kala
sendiri…. tercetus sebuah filosofi dari pikiran sempit empiris.

 

Aug
16
Filed Under (Uncategorized) by rizaputranto on 16-08-2008


 

 

H-18 sebelum keberangkatan ke negeri Napoléon.

 

Penulis
ingin sedikit membagi sebuah pengalaman pribadi yang sajaknya memang sangat
pribadi tetapi sebuah pertanyaan yang tersembul bersifat lebih umum dan
kentara. Apakah semua orang Indonesia memiliki budaya “sulit”? Ataukah hanya
untuk beberapa klan dan suku saja di negara Bhinneka Tunggal Ika ini?

 

Posisi
kami (para penerima beasiswa dari Pemerintah Perancis) tengah berada di kondisi
yang cukup rumit. Entah kenapa, satu per satu dari kami mengalami masalah dalam
mengatur perasaan bahkan pikiran. Tidak mudah tentu saja mempersiapkan segala
sesuatu untuk keberangkatan ke LN, mulai dari semua yang berbau birokratif
hingga personal atau familial. Artinya, semua beban itu terdapat di dalam satu
kepala.

 

Sejak
beberapa bulan terakhir, urusan birokratif yang njlimet membuat badan ini
bertambah kurus, disisi lain dimana semua orang mengusulkan untuk tetap tenang,
yang mana memang mudah untuk mengatakan “tetaplah tenang”. Kenapa penulis tidak
tenang? Kenapa penulis merasa sangat terbebani dengan sistem ini? Tidak lain
dan tidak bukan adalah karena antara sesama bangsa ini, rasa saling memiliki
yang dahulu dimiliki punggawa negeri ini sudah luntur. Penulis juga sangat
membenci jargon “jika bisa dipersulit kenapa harus dipermudah” yang sama sekali
tidak menunjukkan sebuah itikad baik.

 

Idealisme
merupakan simbol kekuatan, keyakinan, dan karakter. Karakter yang diperlukan
bangsa ini untuk maju. Karakter muda yang kuat dan tangguh, tidak tergoyahkan.
Namun, penulis mengerti kenapa karakter ini mudah sekali luntur begitu faham
ini memasuki sistem birokrasi Indonesia. Sistem kita mengizinkan seseorang
untuk berlicik-licik, berbuat sesuatu yang tidak semestinya, sehingga merubah
karakter kokoh beridealisme ini menjadi sesuatu yang fragmatis dan lembek.
Tidak ada, yang mengatakan bahwa fragmatisme adalah hal yang buruk. Tetapi,
menilik bahwa negeri ini didirikan dan dicetuskan pada tanggal 17 Agustus
melalui sebuah perjuangan berkarakter, maka rasanya salah jikalau generasi
calon penerus ini dicekoki dengan lembeknya sistem birokrasi salah kaprah ini.

 

Disisi
lain, sebuah budaya sulit dikemas dalam paket-paket bernama keluarga. Tidak
juga, penulis memiliki sebuah niat buruk dan mengatakan bahwa ini salah. Tidak!
Namun, tuntutan keluarga ternyata menjadi sesuatu yang sangat berat untuk
dilaksanakan, mengingat bahwa pada kenyataannya, penulis tergolong ke dalam
salah satu suku dengan keterikatan famili yang sangat tinggi. Secara pribadi,
penulis melakukan analisis tentang fenomena ini, dan menemukan bahwa budaya ini
dibawa oleh sistem birokrasi yang rumit pula pada zaman dahulu kala, dan
perubahan sejarah Indonesia yang mempengaruhi sudut-sudut filosofi dan
pandangan kulturel.

 

Saat
ini, yang dibutuhkan kami adalah dukungan keluarga, bukan tuntutan untuk
sekedar pulang atau menjenguk sanak famili. Jika dicermati, kepergian ke LN
bukanlah untuk selamanya, dan bukanlah untuk meninggalkan apa yang sudah
terbangun di negeri sendiri. Ini, adalah sebuah tugas mulia dari negara, untuk
“mencuri” ilmu, kembali dan mempraktekkannya di tengah kesemrawutan dan
berusaha untuk memperbaiki keadaan. Hanya beberapa tahun, dan semua keterikatan
familial akan terjalin (kembali) dengan mudahnya.

 

Liberalisme,
adalah jalan keluar sementara untuk masalah ini. Seperti ekspresi Perancis
mengatakan “fichez-moi la paix!”, dengan kata lain “berikan aku
ketenangan”. Kebebasan untuk memikirkan apa yang terbaik. Toh, usia ini tidak
lagi anak-anak, ada keputusan yang harus diambil dengan segala konsekuensinya.
Sekarang ini bukan saatnya untuk berderai air mata, bukan pula saatnya untuk
berkeluh kesah. Jadi, kenapa tidak dukungan saja yang diberikan kepada kami?
Kenapa tidak dorongan moral saja? Kenapa tuntutan ini itu? Kenapa tidak
membelai lembut rambut kami? Kenapa tidak uluran tangan? Kenapa selalu
kata-kata bersenandung seru? Perintah?

 

Ini
bukan tulisan bernada iritasi, bukan pula sebuah protes, hanya berjajar kalimat
yang tersimpan dalam sanubari yang masih dikatakan manusia. Ya, kami juga
manusia biasa. Penulis, masih merasakan perihnya luka. Aku manusia biasa.

 

 

Riza A. PUTRANTO, 14 Agustus 2008. Aku butuh support….